Karya Tulis Ilmiah dalam kegiatan pengembangan profesi guru.

Bab I Pengembangan Profesi dan KTI

1.1. Bagaimana kaitan KTI dengan pengembangan profesi guru?

Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara nomor 84/1993 penetapan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, serta Keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala BAKN Nomor 0433/P/1993, nomor 25 tahun 1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, pada prinsipnya bertujuan untuk membina karier kepangkatan dan profesionalisme guru

Pada aturan tersebut, di antaranya dinyatakan bahwa untuk keperluan kenaikan pangkat/jabatan Guru Pembina /Golongan IVa ke atas, diwajibkan adanya angka kredit yang harus diperoleh dari Kegiatan Pengembangan Profesi.

Melalui sistem angka kredit itu, diharapkan dapat diberikan penghargaan secara lebih adil dan lebih professional terhadap pangkat guru, yang merupakan pengakuan profesi dan kemudian akan meningkatkan pula tingkat kesejahteraannya.

Kalau capek minum kopi dulu. baru lanjutkan > klik di bawah ini.

Pengembangan profesi terdiri dari 5 (lima) macam kegiatan, yaitu: (1) menyusun Karya Tulis Ilmiah (KTI), (2) menemukan Teknologi Tepat Guna, (3) membuat alat peraga/bimbingan,(4) menciptakan karya seni dan (5) mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.

Sehingga membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI) merupakan salah satu macam kegiatan yang dapat dilakukan guru dalam pengembangan profesinya.

1.2. Apakah KTI satu-satunya kegiatan pengembangan profesi guru?

Tidak. Berbeda dengan anggapan umum, menyusun Karya Tulis Ilmiah (KTI) BUKAN merupakan satu-satunya kegiatan pengembangan profesi guru.

Namun, dengan berbagai alasan, antara lain karena belum jelasnya petunjuk operasional pelaksanaan dan penilaian dari kegiatan selain menyusun KTI, maka pelaksanaan kegiatan pengembangan profesi sebagian terbesar dilakukan melalui KTI.

1.3. Apa yang dimaksud dengan Karya Tulis Ilmiah (KTI)?

KTI adalah laporan tertulis tentang (hasil) kegiatan ilmiah. Karena kegiatan ilmiah itu banyak macamnya, maka laporan kegiatan ilmiah (= KTI) juga beragam bentuknya. Ada yang berbentuk laporan penelitian, tulisan ilmiah populer, buku, diktat dan lain-lain.

KTI pada kegiatan pengembangan profesi guru, terdiri dari 7 (tujuh) macam, dengan rincian sebagai berikut:

No Macam KTI Macam publikasinya Angka kredit

1 KTI hasil penelitian, pengkajian, survei dan atau evaluasi Berupa buku yang diedarkan secara nasional 12,5

Berupa tulisan (artikel ilmiah) yang dimuat pada majalah ilmiah yang diakui oleh Depdiknas 6,0

Berupa buku yang tidak diedarkan secara nasional 6,0

Berupa makalah 4,0

2 KTI yang merupakan tinjuan atau gagasan sendiri dalam bidang pendidikan Berupa buku yang diedarkan secara nasional 8,0

Berupa tulisan (artikel ilmiah) yang dimuat pada majalah ilmiah yang diakui oleh Depdiknas 4,0

Berupa buku yang tidak diedarkan secara nasional 7,0

Berupa makalah 3,5

3 KTI yang berupa tulisan ilmiah popular yang disebarkan melalui media masa Berupa tulisan (artikel ilmiah) yang dimuat pada media masa 2,0

4 KTI yang berupa tinjuan, gagasan, atau ulasan ilmiah yang disampaikan sebagai prasaran dalam pertemuan ilmiah Berupa makalah dari prasaran yang disampaikan pada pertemuan ilmiah 2,5

5 KTI yang berupa buku pelajaran Berupa buku yang bertaraf nasional 5

Berupa buku yang bertaraf propinsi 3

6 KTI yang berupa diktat pelajaran Berupa diktat yang digunakan di sekolahnya 1

7 KTI yang berupa karya terjemahan Berupa karya terjemahan buku pelajaran/ karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan 2.5

Meskipun berbeda macam dan besaran angka kreditnya, semua KTI (sebagai tulisan yang bersifat ilmiah) mempunyai kesamaan, yaitu:

• hal yang dipermasalahkan berada pada kawasan pengetahuan keilmuan

• kebenaran isinya mengacu kepada kebenaran ilmiah

• kerangka sajiannya mencerminan penerapan metode ilmiah

• tampilan fisiknya sesuai dengan tata cara penulisan karya ilmiah

Salah satu bentuk KTI yang cenderung banyak dilakukan adalah KTI hasil penelitian perorangan (mandiri) yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah dalam bentuk makalah (angka kredit 4).

1.4. Bagaimana hubungan KTI dengan Penelitian?

Penelitian merupakan kegiatan ilmiah. Sehingga, laporan hasil penelitian juga merupakan Karya Tulis Ilmiah.

Bahkan, KTI yang merupakan laporan hasil penelitian, merupakan bagian penting dari macam KTI yang dapat dibuat oleh guru, widyaiswara maupun pengawas, sebagaimana tampak pada tabel berikut.

guru widyaiswara pengawas

• KTI hasil penelitian

• KTI tinjauan/ulasan ilmiah

• Tulisan Ilmiah Populer

• Prasaran disampaikan dalam pertemuan ilmiah

• Buku

• Diktat

• Karya terjemahan • KTI hasil penelitian

• KTI tinjauan/ulasan ilmiah

• Tulisan Ilmiah Populer

• Prasaran disampaikan dalam pertemuan ilmiah

• Buku

• Karya terjemahan

• Orasi ilmiah sesuai dengan bidang yang diajarkan • KTI hasil penelitian

• KTI tinjauan/ulasan ilmiah

• Tulisan Ilmiah Populer

• Prasaran disampaikan dalam pertemuan ilmiah

1.5. Mengapa KTI Penelitian Diminati?

Salah satu bentuk KTI yang akhir-akhir ini, cenderung banyak dilakukan oleh para guru adalah KTI hasil penelitian perorangan yang tidak dipublikasikan, tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah dalam bentuk makalah. KTI jenis ini mempunyai nilai angka kredit 4 (empat).

KTI yang berupa laporan hasil penelitian tersebut cenderung diminati di antaranya karena:

1. Para guru makin memahami bahwa salah satu tujuan kegiatan pengembangan profesi, adalah dilakukannya kegiatan nyata di kelasnya yang ditujukan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajarannya. Bagi sebagian besar guru, melakukan kegiatan seperti itu, sudah terbiasa dilakukan

2. Kegiatan tersebut, harus dilaksanakan dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah, karena hanya dengan cara itulah, mereka akan mendapat jawaban yang benar secara keilmuan terhadap apa yang ingin dikajinya.

3. Apabila kegiatan tersebut dilakukan di kelasnya, maka kegiatan tersebut dapat berupa penelitian tindakan yang semakin layak untuk menjadi prioritas kegiatan. Kegiatan nyata dalam proses pembelajaran, dapat berupa tindakan untuk “menerapkan” hal-hal “baru” dalam praktik pembelajarannya. Berbagai inovasi baru dalam pembelajaran, memerlukan verifikasi maupun penerapan dalam proses pembelajaran.

1.6. Mengapa PTK Disarankan Sebagai Pengembangan Profesi ?

Penelitian Tindakan Kelas (PTK), disarankan dilakukan guru dalam upaya menulis KTI karena:

• KTI tersebut merupakan laporan dari kegiatan nyata yang dilakukan para guru di kelasnya dalam upaya meningkatkan mutu pembelajarannya – (ini tentunya berbeda dengan KTI yang berupa laporan penelitian korelasi, penelitian diskriptif, ataupun ungkapan gagasan, yang umumnya tidak memberikan dampak langsung pada proses pembelajaran di kelasnya), dan

• Dengan melakukan kegiatan penelitian tersebut, maka para guru telah melakukan salah satu tugasnya dalam kegiatan pengembangan profesionalnya.

Laporan PTK yang apabila dilakukan dengan baik dan benar akan mendapat penghargaan berupa angka kredit. Selanjutnya angka kredit tersebut dapat dipakai untuk melengkapi persyaratan kenaikan golongan kepangkatannya.

1.7. Apa macam KTI Laporan Penelitian?

Laporan hasil penelitian tersebut dapat disajikan dalam berbagai bentuk, antara lain:

No Macam bentuk publikasi laporan hasil penelitian Angka kredit

1 Berupa buku yang diedarkan secara nasional. Buku yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional yang ditulis berdasar hasil penelitian yang dilakukan oleh guru, masih sangat terbatas jumlahnya. Sangat jarang guru mengirimkan KTI dalam bentuk ini. 12,5

2 Berupa tulisan (artikel ilmiah) yang dimuat pada majalah ilmiah (jurnal) yang diakui oleh Depdiknas. Masing-masing jurnal ilmiah umumnya mempunyai persyaratan dan tata cara penulisan artikel hasil penelitian yang spesifik dan berlaku untuk jurnal yang bersangkutan. KTI yang diajukan guru dalam bentuk publikasi ini, akhir-akhir ini semakin meningkat jumlahnya. 6,0

3 Berupa buku yang tidak diedarkan secara nasional. Buku yang ditulis berdasar hasil penelitian yang dilakukan oleh guru, yang tidak diederkan secara nasional juga masih sangat terbatas jumlahnya. 6,0

4 Berupa makalah yang disimpan di perpustakaan. Inilah bentuk laporan hasil penelitian yang paling banyak diajukan sebagai Karya Tulis Ilmiah oleh para guru. 4,0

5 Berupa tulisan (artikel ilmiah) yang dimuat pada media masa. Meskipun cukup banyak tulisan ilmiah popular diajukan sebagai KTI, namun yang merupakan laporan hasil penelitian, sangat terbatas jumlahnya. 2,0

6 Berupa makalah dari prasaran yang disampaikan pada pertemuan ilmiah. Meskipun cukup banyak makalah berupa prasasran diajukan sebagai KTI, namun yang merupakan makalah prasaran berdasarkan laporan hasil penelitian, sangat terbatas jumlahnya. 2,5

Dari 6 (enam) macam KTI hasil penelitian di atas, KTI yang paling banyak dibuat oleh guru adalah yang berupa makalah yang disimpan di perpustakaan (dengan angka kredit 4).

1.8. Adakah permasalahan dalam pengumpulan angka kredit?

Paling tidak terdapat dua fakta dalam pengumpulan angka kredit, yaitu :

(a) Pengumpulan angka kredit untuk kenaikan dari golongan IIIa sampai dengan golongan IVa, relatif lancar. Pada jenjang tersebut, angka kredit yang wajib dikumpulkan hanya dari tiga macam bidang kegiatan guru, yakni (1) pendidikan, (2) proses pembelajaran, dan (3) penunjang proses pembelajaran.

Angka kredit dari bidang pengembangan profesi, belum merupakan persyaratan wajib.

Akibat “longgarnya” proses kenaikan pangkat itu, tujuan pemberian penghargaan secara lebih adil dan lebih profesional terhadap peningkatan karir kurang dapat dicapai secara optimal.

Longgarnya seleksi peningkatan karir, juga menyulitkan untuk membedakan antara mereka yang berpretasi dan kurang atau tidak berprestasi.

Lama kerja lebih memberikan urunan yang siginifikan pada kenaikan pangkat. Kebijakan itu seolah-olah berupa kenaikan pangkat yang mengacu pada lamanya waktu kerja, dan kurang mampu memberikan evaluasi pada kinerja profesional.

(b) Permasalahan kedua, berbeda dan bahkan bertolak belakang dengan keadaan di atas. Proses kenaikan dari golongan IVa ke atas relatif berjalan “lambat”

Pada kenaikan pangkat golongan IVa ke atas tersebut, diwajibkan adanya pengumpulan angka kredit dari unsur Kegiatan Pengembangan Profesi.

Angka kredit kegiatan pengembangan profesi –berdasar aturan yang berlaku saat ini— dapat diperoleh melalui kegiatan :

1. menyusun Karya Tulis Ilmiah (KTI),

2. menemukan Teknologi Tepat Guna,

3. membuat alat peraga/bimbingan,

4. menciptakan karya seni dan

5. mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.

Sementara itu, tidak sedikit guru dan pengawas yang “merasa” kurang mampu melaksanakan kegiatan pengembangan profesinya (= yang dalam hal ini membuat KTI) sehingga menjadikan mereka enggan, tidak mau, dan bahkan apatis terhadap pengusulan kenaikan golongannya. Terlebih lagi dengan adanya pendapat bahwa kenaikan pangkat/golongannya belum memberikan peningkatkan kesejahteraan yang signifikannya,

Akibat dari hal di atas menjadikan permasalahan

(a) Banyak guru yang telah lama berada di golongan IVa, dan mereka sangat ingin segera naik pangkat. Baik mereka yang memenuhi persyaratan, ataupun tidak. Baik yang berprestasi, maupun tidak.

(b) Dirasakan kewajiban pengumpulan angka kredit dari Kegiatan Pengembangan Profesi memberatkan dan membuat proses kenaikkan pangkat TIDAK LAGI selancar proses kenaikkan pangkat sebelumnya.

(c) proses kenaikan pangkat sebelumnya – dari golongan IIIa ke IVa yang “relatif lancar”, menjadikan “kesulitan” memperoleh angka kredit dari kegiatan pengembangan profesi, sebagai “hambatan yang merisaukan

(d) Masih sangat banyak guru yang membutuhkan peningkatan kemampuan dan kemauannya agar dapat melakukan kegiatan Pengembangan Profesi dengan baik dan benar.

(e) Adanya berbagai isu negatif berkaitan dengan kenaikka ke pangkat IVb ke atas, seperti misalnya : ada kuota penjatahan, perlu melalui jalan samping, dan lain-lain.

(f) Banyak guru yang telah mencoba mengumpulkan angka kredit pengembangan profesi, dan yang terbanyak melalui KTI, tetapi KTI nya tidak memenuhi syarat dan TIDAK dapat diberi nilai.

Bab II Menilai KTI

2.1. Mengapa banyak KTI belum memenuhi syarat?

Berdasar pengalaman dalam proses penilaian, terdapat hal-hal sebagai berikut…

(a) Tidak sedikit dari KTI yang diajukan, merupakan JIPLAKAN, KTI orang lain yang dinyatakan sebagai karyanya, atau bahkan KTI yang DIBUATKAN oleh orang lain

KTI jenis ini umumnya diambil (dijiplak) dari skripsi, tesis atau laporan penelitian orang lain. Indikasi tentang hal tersebut seringkali dapat dengan mudah terdeteksi, misalnya dari data yang tidak konsisten, tulisan yang tidak sama, dan lain-lain. Namun sering juga sangat sulit diketahui, meskipun ada “rasa” yang menyatakan bahwa KTI tersebut bukan karya sendiri (misalnya: KTI itu sangat berbeda kualitasnya dengan KTI yang lain dari guru yang sama, atau sangat akademik, dan lain-lain)

KTI jenis ini juga ditandai dari sangat miripnya satu KTI dengan KTI yang lain, baik yang diajukan oleh guru yang bersangkutan, atau oleh guru-guru lain di daerah sekitarnya. Umumnya KTI ini mempunyai kesamaan pada kata pengantar, daftar isi, abstrak, teori, daftar pustaka yang sama baik font, ukuran huruf, kata-demi-kata, kalimat dan lain-lain. Dari pengalaman telah dapat terdeteksi daerah-daerah tertentu yang menggunakan biro jasa pembuatan KTI

(b) Banyak pula KTI yang berisi uraian hal-hal yang terlalu umum. KTI yang tidak berkaitan dengan permasalahan atau kegiatan nyata yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pengembangan profesinya.

Mengapa demikian? Karena KTI semacam itulah yang paling mudah ditiru, dipakai kembali oleh orang lain dengan cara mengganti nama penulisnya.

Contoh KTI yang berjudul Membangun karakter bangsa melalui kegiatan ekstra kurikuler. KTI ini sama sekali tidak memaparkan hal spesifik yang berkaitan dengan permasalahan yang ada di sekolah atau kelasnya. Sehingga meskipun KTI berada dalam bidang pendidikan, dan tidak ada yang salah dari apa yang dituliskan, tetapi bagaimana dapat diketahui bahwa KTI tersebut adalah karya guru yang bersangkutan.

KTI yang berjudul Peranan perpustakaan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, juga sangat sering dibuat oleh guru.

KTI di atas tidak menjelaskan permasalahan spesifik yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab guru. Jadi, meskipun KTI berada dalam bidang pendidikan tetapi (a) apa manfaat KTI tersebut dalam upaya peningkatan profesi guru?, (b) bagaimana dapat diketahui bahwa KTI tersebut adalah karya guru yang bersangkutan?

2.2. Bagaimana kriteria KTI yang dapat dinilai?

KTI dapat dinilai apabila telah memenuhi kriteria dan persyaratan yang ditetapkan. Di samping memakai berbagai kriteria penulisan karya tulis ilmiah yang umum dipergunakan, terdapat beberapa kriteria dan persyaratan yang khusus yang digunakan untuk menilai KTI dalam pengembangan profesi guru (untuk itu lihat peraturan dan pedoman yang telah dikeluarkan oleh Diknas, yang berkaitan dengan hal ini)

KTI dalam kegiatan pengembangan profesi juga harus memenuhi kriteria “APIK,” yang artinya adalah

 A sli, penelitian harus merupakan karya asli penyusunnya, bukan merupakan plagiat, jiplakan, atau disusun dengan niat dan prosedur yang tidak jujur. Syarat utama karya ilmiah adalah kejujuran.

KTI yang tidak “asli “ dapat terlihat antara lain melalui,

 terdapat bagian-bagian tulisan, atau petunjuk lain yang menunjukkan bahwa KTI itu dirubah di sana-sini dan digunakan sebagai KTI nya (seperti misalnya: bentuk ketikan yang tidak sama, tempelan nama, terdapat petunjuk adanya lokasi dan subyek yang tidak konsisten, terdapat tanggal pembuatan yang tidak sesuai, terdapat berbagai data yang tidak konsisten, tidak akurat

 waktu pelaksanaan pembuatan KTI yang kurang masuk akal (misalnya pembuatan KTI yang terlalu banyak dalam kurun waktu tertentu)

 adanya kesamaan yang sangat mencolok pada isi, format, gaya penulisan dengan KTI yang lain, baik yang dibuat oleh guru yang bersangkutan atau dengan KTI lain dari daerah tertentu (umumnya dengan sampul yang sama, kata pengantar yang sama, teori yang sama, daftar pustaka yang sama, yang berbeda hanya pada subyek mata pelajaran, dan data yang tampak sekedarnya)

 adanya keTIDAKsamaan yang sangat mencolok pada isi, format, gaya penulisan di anatara KTI yang dibuat oleh seorang guru (misalnya yang satu sangat sederhana, yang satu sangat tebal, sangat akademik setara tesis atau bahkan desertasi)

 tidak melampirkan dokumen kegiatan guna menunjukkan bahwa KTI tersebut benar-benar dilakukan sendiri, misalnya pada laporan hasil penelitian tidak melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh guru maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

 P erlu, permasalahan yang dikaji pada kegiatan pengembangan profesi tentunya harus memang diperlukan, mempunyai manfaat. Bukan hal yang mengada-ada, atau memasalahkan sesuatu yang tidak perlu untuk dipermasalahkan. Contoh dari KTI yang tidak perlu antara lain…

 masalah yang dikaji terlalu luas, tidak langsung berhubungan dengan permasalahan yang berkaitan dengan upaya pengembangan profesi guru di kelasnya (misalnya KTI yang berjudul (a) Kemampuan professional guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran, (b) Peranan guru dalam melestarikan Pancasila, dan (c) Teknologi Informasi dalam dunia pendidikan).

 masalah yang ditulis tidak menunjukan adanya kegiatan nyata penulis dalam peningkatan / pengembangan profesinya sebagai guru, permasalahan yang ditulis, sangat mirip dengan KTI yang telah ada sebelumnya, telah jelas jawabannya, kurang jelas manfaatnya dan merupakan hal mengulang-ulang (misalnya KTI yang berjudul: (a) Hubungan status orangtua siswa dengan prestasi belajar, (b) Korelasi nilai IPA dengan nilai Pendidikan Pancasila, dan (c) Hubungan antara Motivasi Berprestasi dengan nilai Bahasa Indonesia.)

 Isi tulisan tidak termasuk pada macam KTI yang memenuhi syarat untuk dapat dinilai, misalnya pada KTI yang berjudul (a) rela berkorban untuk tanah air, (b) sejarah kerajaan Sunda Melinda, (c) Agar PEMILU berjalan Jurdil,

 I lmiah, penelitian harus berbentuk, berisi, dan dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah kebenaran ilmiah. Penelitian harus benar, baik teorinya, faktanya maupun analisis yang digunakannya. KTI yang tidak ilmiah antara lain ditandai dengan

 masalah yang dituliskan berada di luar permasalahan keilmuan khususnya permasalahan pembelajaran spesifik yang berkaitan dengan sekolah atau kelasnya

 latar belakang masalah tidak jelas sehingga tidak dapat menunjukkan pentingnya hal yang dibahas dan hubungan masalah tersebut dengan upayanya untuk mengembangkan profesinya sebagai guru (misalnya tidak ada fakta spesifik yang berkaitan dengan masalah di sekolah atau kelasnya)

 rumusan masalah tidak jelas sehingga kurang dapat diketahui apa sebenarnya yang akan diungkapkan pada KTInya

 kebenarannya tidak terdukung oleh kebenaran teori, kebenaran fakta dan kebenaran analisisnya

 landasan teori perlu perluas dan disesuaikan dengan permasalahan yang dibahas

 bila KTInya merupakan laporan hasil penelitian, tampak dari metode penelitian, sampling, data, analisis hasil yang tidak / kurang benar.

 Bila KTInya berupa laporan PTK tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan, juga tidak jelas bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi pada penentuan siklus-siklus berikutnya.

 kesimpulan tidak/belum menjawab permasalahan yang diajukan

 K onsisten, penelitian harus disusun sesuai dengan kemampuan penyusunnya. Bila penulisnya seorang guru, maka penelitian haruslah berada pada bidang kelimuan yang sesuai dengan kemampuan guru tersebut. Penelitian di bidang pembelajaran yang semestinya dilakukan guru adalah yang bertujuan dengan upaya peningkatan mutu hasil pembelajaran dari siswanya, di kelas atau di sekolahnya.

 masalah yang dikaji tidak sesuai dengan tugas si penulis sebagai guru

 masalah yang dikaji tidak sesuai latar belakang keahlian atau tugas pokok penulisnya

 masalah yang dikaji tidak berkaitan dengan upaya penulis untuk mengembangkan profesinya sebagai guru (misalnya masalah tersebut tidak mengkaji permasalahan di bidang pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu siswa di kelasnya yang sesuai dengan bidang tugasnya).

2.3. Bagaimana contoh alasan dan saran dalam menilai KTI?

Berikut disajikan contoh alasan dan saran dalam menilai KTI yang belum memenuhi syarat dan karena itu tidak dapat diberi nilai.

No Kriteria Penolakan Hal terdapat pada KTI … Alasan penolakan dan saran

1 KTI tidak ASLi (a) Pada KTI terdapat indikasi yang menunjukan bahwa KTI tersebut tidak asli, seperti data yang tidak konsisten, lokasi, nama sekolah, dan data yang dipalsukan, lampiran yang tidak sesuai, dan lain-lain

(b) Dalam satu tahun, seorang guru mengajukan lebih dari dua buah KTI hasil penelitian. Adalah kurang wajar bila seorang guru mampu membuat KTI hasil penelitian dalam jumlah yang terlalu banyak dalam satu tahun (Apabila setiap semester dilakukan satu penelitian, maka dalam setahun, dihasilkan maksimal dua KTI hasil penelitian)

(c) Beberapa KTI dari guru yang sama, sangat berbeda kualitasnya. Misalnya satu KTI berkualitas setara tesis, sedang KTI lain yang, mempunyai kualitas yang sangat jauh berbeda. Tidak wajar apabila kualitas KTI dari guru yang sama, mempunyai mutu yang sangat jauh berbeda.

(d) KTI yang dinyatakan dibuat dalam waktu yang berbeda (misalnya tahun-tahun yang berbeda) mempunyai kesamaan mencolok satu dengan yang lain. Kesamaan itu misalnya tampak pada kata pengantar, tanggal pengesahan, tanggal pembuatan, foto pelaksanaan yang sama, dan data lain yang menunjukkan ketidak wajaran.

Terdapat indikasi yang menunjukan KTI ini diragukan keasliannya, yaitu

(a) adanya berbagai data yang tidak konsisten

(b) dalam waktu relatif singkat membuat begitu banyak karya ilmiah

(c) adanya perbedaan mutu KTI yang mencolok dari karya seorang guru

(d) adanya kesamaan yang mencolok dari KTI yang dibuat pada waktu yang berbeda.

Disarankan untuk membuat KTI baru, karya sendiri, dalam bidang pendidikan yang berfokus pada “laporan” kegiatan nyata yang bertsangkutan. Misalnya berupa laporan penelitian tindakan kelas, atau diktat, buku, karya terjemahan, dan lain-lain.

2

KTI tidak ASLi KTI yang diajukan sangat mirip skipsi, tesis atau desertasi orang lain.

Hal ini tampak dari sajian isi, format kelengkapan kepustakaan, kedalaman teori dan terutama permasalahan penelitian sangat mirip dengan skripsi, tesis atau desertasi.

Contoh judul:

Pengaruh model pembelajaran melalui seting belajar kooperatif terhadap pemahaman konseptual dan algoritmik matematika realistik pada mahasiswa prodi sosial. (jumlah halaman 182, dengan 43 kepustakaan)

Terdapat indikasi KTI ini tidak asli. KTI yang diajukan sangat mirip skripsi, tesis atau desertasi atau KTI orang lain.

Disarankan untuk membuat KTI baru dalam bidang pendidikan yang berfokus pada “laporan” kegiatan nyata yang bertsangkutan. Misalnya berupa laporan penelitian tindakan kelas, atau diktat, buku, karya terjemahan, dan lain-lain.

3 KTI tidak ASLi Beberapa KTI (yang umumnya berasal dari daerah yang sama) sangat mirip. Kemiripan yang mencolok tersebut tampak pada pengantar, abstrak, teori, daftar pustaka, yang tertulis sama baik bentuk dan ukuran huruf, kata-demi-kata, kalimat dan lain-lain.

Fakta di lapangan menunjuk-kan adanya biro jasa yang bersedia “membuatkan” KTI bagi para guru. Terdapat indikasi KTI ini tidak asli. KTI yang diajukan sangat mirip dengan KTI lain dari daerah yang sama. Kemiripan yang mencolok tersebut tampak pada kata pengantar, daftar isi, abstrak, teori, daftar pustaka, dan berbagai data yang lain.

Disarankan untuk membuat KTI baru, karya sendiri, dalam bidang pendidikan yang berfokus pada “laporan” kegiatan nyata yang bertsangkutan. Misalnya berupa laporan penelitian tindakan kelas, atau diktat, buku, karya terjemahan, dan lain-lain.

Bila KTI tersebut berupa laporan penelitian maka sistematika paling tidak memuat :

(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori dan pustaka; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur penelitian; (Bab IV) Hasil penelitian; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.

Laporan penelitian harus pula melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh guru maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

4 KTI tidak PERLU Isi KTI berupa diskripsi atau paparan tentang hal yang terlalu luas/ terlalu umum

Tidak ada keterkaitannya dengan permasalahan yang ada di sekolah/ kelasnya. Tidak ada hal yang berkaitan dengan kegiatan ybs sebagai guru di kelasnya.

Umumnya berupa kumpulan berbagai pendapat orang lain.

Contoh judul:

Membangun karakter bangsa melalui kegiatan ekstra kurikuler

Dalam rangka HUT PGRI guru bertanggungjawab untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia

Motivasi guru dalam kegiatan olahraga

Peranan perpustakaan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa

Hubungan antara kondisi sosial ekonomi orangtua siswa dengan prestasi belajarnya. KTI belum memenuhi persyaratan, hal yang dipermasalahkan terlalu umum, telah jelas jawabannya dan tidak terkait dengan kegiatan nyata yang bersangkutan dalam kegiatan pengembangan profesinya sebagai guru.

Disarankan membuat KTI baru yang berupa “laporan” kegiatan nyata yang bersangkutan, misalnya laporan penelitian tindakan kelas.

Bila KTI dimaksudkan sebagai tinjauan ilmiah tetap harus memasalahkan hal-hal yang berkaitan dengan tugas-tugas mengajarnya dengan menyertakan fakta-fakta masalah yang terjadi di kelasnya. Kemudian diuraikan bagaimana upaya yang bersangkutan mengurangi atau memecahkan masalah berkaitan dengan teori yang ada. Sistematika karya tulis ilmiah yang berupa tinjauan ilmiah paling tidak memuat :

1. Pendahuluan yang terdiri dari (a) latar belakang masalah, (b) rumusan masalah, (c) tujuan dan manfaat penulisan

2. Kajian teori yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji dan sajian fakta-fakta yang terkait dengan pelaksanaan tugas yang bersangkutan di kelas/ sekolahnya

3. Tinjauan atau ulasan tentang bagaimana memecahkan masalah atau mengurangi masalah yang berupa gagasan yang bersangkutan berdasar teori dan fakta yang ada.

4. Kesimpulan dan saran

5 KTI tidak PERLU Isi KTI berupa laporan penelitian di luar bidang pendidikan / pembelajaran.

Lebih merupakan penelitian bidang studi.

Contoh judul:

Pengaruh jumlah faktor air semen pada kekuatan tekan beton.

Analisis kesalahan siswa dalam mengubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif

Suatu tinjauan tentang pelaksanaan pembelajaran sejarah KTI belum memenuhi persyaratan, hal yang dipermasalahkan berupa pembahasan isi/materi pelajaran dan tidak terkait dengan kegiatan nyata yang bersangkutan dalam kegiatan pengembangan profesinya sebagai guru dalam praktik pembelajaran.

Disarankan membuat KTI baru yang berupa “laporan” kegiatan nyata yang bersangkutan, misalnya laporan penelitian tindakan kelas.

Bila KTI dimaksudkan sebagai tinjauan ilmiah tetap harus memasalahkan hal-hal yang berkaitan dengan tugas-tugas mengajarnya dengan menyertakan fakta-fakta masalah yang terjadi di kelasnya. Kemudian diuraikan bagaimana upaya yang bersangkutan mengurangi atau memecahkan masalah berkaitan dengan teori yang ada.

6 KTI tidak Ilmiah Isi KTI menunjukan hal-hal berikut:

 masalah yang dituliskan berada di luar permasalahan keilmuan khususnya permasalahan pembelajaran spesifik yang berkaitan dengan sekolah atau kelasnya

 latar belakang masalah tidak jelas sehingga tidak dapat menunjukkan pentingnya hal yang dibahas dan hubungan masalah tersebut dengan upayanya untuk mengembangkan profesinya sebagai guru (misalnya tidak ada fakta spesifik yang berkaitan dengan masalah di sekolah atau kelasnya)

 rumusan masalah tidak jelas sehingga kurang dapat diketahui apa sebenarnya yang akan diungkapkan pada KTInya

 kebenarannya tidak terdukung oleh kebenaran teori, kebenaran fakta dan kebenaran analisisnya

 bila KTInya merupakan laporan hasil penelitian, tampak dari metode penelitian, sampling, data, analisis hasil yang tidak / kurang benar.

 Bila KTInya berupa laporan PTK tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan, juga tidak jelas bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi pada penentuan siklus-siklus berikutnya.

 kesimpulan tidak/belum menjawab permasalahan yang diajukan

KTI belum memenuhi persyaratan sebagai karya tulis ilmiah. Hal itu terlihat dari : (a) masalah yang dituliskan berada di luar permasalahan keilmuan, (b) latar belakang tidak jelas dan rumusan masalah tidak jelas, (c) kerangka teori tidak sesuai, (d) metode penelitian tidak benar.

Untuk itu buat KTI baru, atau perbaiki KTi ini dengan mengacu pada hal-hal berikut:

Bila KTI tersebut berupa laporan penelitian maka sistematika paling tidak memuat :

(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori dan pustaka; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur penelitian; (Bab IV) Hasil penelitian; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.

Laporan penelitian harus pula melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh guru maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

Bila dimaksudkan sebagai tinjauan ilmiah paling tidak memuat : (a) Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, (b) Kajian teori yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji dan sajian fakta-fakta yang terkait dengan pelaksanaan tugas yang bersangkutan di kelas/ sekolahnya, (c) Tinjauan atau ulasan tentang bagaimana memecahkan masalah atau mengurangi masalah yang berupa gagasan yang bersangkutan berdasar teori dan fakta yang ada, dan (d) Kesimpulan dan saran

7 KTI tidak Kon-sisten Isi KTI tidak berkaitan dengan tugas guru dalam tugas pembelajarannya.

 masalah yang dikaji tidak sesuai dengan tugas si penulis sebagai guru

 masalah yang dikaji tidak sesuai latar belakang keahlian atau tugas pokok penulisnya

 masalah yang dikaji tidak berkaitan dengan upaya penulis untuk mengembangkan profesinya sebagai guru

Contoh judul:

Pengaruh komunikasi kepala sekolah terhadap peningkatan semangat kerja guru

KTI belum memenuhi persyaratan karena hal yang dipermasalahkan tidak sesuai dengan tidak sesuai dengan tugas si penulis sebagai guru, atau tidak sesuai latar belakang keahlian atau tugas pokoknya.

Disarankan untuk membuat KTI baru, karya sendiri, dalam bidang pendidikan yang berfokus pada “laporan” kegiatan nyata yang bertsangkutan. Misalnya berupa laporan penelitian tindakan kelas, atau diktat, buku, karya terjemahan, dan lain-lain.

Berikut disajikan contoh alasan dan saran dalam menilai KTI yang BILA DIPERBAIKI akan mendapat nilai

No Kriteria Penolakan Hal terdapat pada KTI … Alasan penolakan dan saran

1 KTI belum melampirkan kelengkapan data Secara keseluruhan KTI tersebut telah cukup baik, tetapi tidak melampirkan kelengkapan (umumnya pada laporan hasil penelitian), sehingga timbul keraguan, apakah KTI tersebut memang karya sendiri atau bukan. KTI ini cukup baik. Namun, segera lampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh guru maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

2 KTI yang perlu tambahan pengesahan Secara keseluruhan KTI tersebut telah cukup baik, namun belum ada persetujuan dari kepala sekolah atau yang lain KTI ini cukup baik. Namun, segera dilengkapi dengan persetujuan. Pengesahan sesuai dengan pedoman. Terutama pengesahan dari kepala sekolah.

3 KTI yang perlu tambahan-tambahan lain KTI yang dinyatakan sebagai prasaran tetapi tidak dilengkapi dengan bukti-bukti seperti (a) pernyataan dari penyelenggara seminar, (b) pigama –bila ada, (c) daftar hadir dan lain-lain. KTI ini cukup baik. Namun, sebagai prasaran dalam kegiatan ilmiah hendaknya segera dilengkapi dengan bukti-bukti seperti (a) pernyataan dari penyelenggara seminar, (b) pigama –bila ada, (c) daftar hadir dan lain-lain.

4 Lainnya….

2.4. Adakah contoh judul KTI yang dapat dinilai?

Berikut disajikan contoh Judul KTI yang memenuhi kegiatan pengembangan profesi dan memenuhi syarat dan dapat diberi nilai.

No Judul Intisari isi Dapat dinilai sebagai

1 Pengaruh penggunaan alat peraga gambar terhadap nilai sejarah pada siswa kelas III, sem 1. SMP X. Mengkaji perbedaan prestasi siswa dengan penggunaan dua model pembelajaran sejarah (alat peraga gambar dan bagan vs media tertulis) untuk topik tertentu pada pelajaran sejarah.

Penelitian eksperimen di kelas, yang melibatkan 4 kelas, dengan jumlah siswa 132 dibagi secara random dalam dua kelompok. Dilakukan selama 5 kali pertemuan.

KTI ini melampirkan secara lengkap semua instrumen, contoh isian responden, foto-foto kegiatan, dan dokumen penelitian yang lain. Makalah hasil penelitian dengan nilai 4

2 Peningkatan hasil belajar matematika melalui model belajar kelompok kooperatif , di kelas VI, SD. Penelitian tindakan kelas dengan bentuk tindakannya berupa penerapan pembelajaran matematika melalui model belajar kelompok kooperarif.

Bentuk tindakannya dirinci dengan sangat jelas, demikian pula cara dan hasil pengumpulan data yang digunakan untuk evaluasi dan refleksi.

PTK dilakukan dalam 2 siklus selama 4 bulan. Dilampirkan secara lengkap semua instrumen, contoh isian responden, foto-foto kegiatan, dan dokumen penelitian yang lain. Makalah hasil penelitian dengan nilai 4

3 Kesesuaian antara minat dengan pilihan program keterampilan Penelitian desriptif di sekolahnya tentang bagaimana hubungan antara minat siswa dengan berbagai program keterampilan yang ditawarkan.

Data-data faktual dari permasalahan yang ada disajikan secara lengkap.

KTI ini ditulis oleh guru Bimbingan dan Konseling dan melampirkan secara lengkap semua instrumen, contoh isian responden, foto-foto kegiatan, dan dokumen penelitian yang lain.

Makalah hasil penelitian dengan nilai 4

4 Peningkatan hasil belajar Biologi dengan menggunakan Media Kartu Bergambar pada topik X, di kelas Y, dstnya..

Penelitian tindakan kelas, dengan jabaran macam tindakan yang sangat rinci dengan dukungan teori. Terdiri dari 2 siklus melibatkan seluruh kelas untuk satu catur wulan.

Tulisan ini dimuat di Jurnal Pendidikan satu Perguruan Tertentu yang berkualitas dan terakreditasi. Makalah hasil penelitian yang dimuat di jurnal dengan nilai 6

5 Pengaruh review terhadap daya serap siswa pada pelajaran Kimia di SMU X, kelas…

Tinjauan ilmiah tentang pratik pembelajaran dengan menggunakan review di setiap akhir bahasan yang selama ini telah dilakukan di kelasnya.

Data tentang hal dipermasalkan dilampirkan dengan jelas dan lengkap.

Gagasan pemecahan masalah yang diajukan penulis tersaji dengan jelas. Makalah hasil tinjuan dengan nilai 3,5

6 Perbandingan teknik meniru model dengan teknik organisasi dalam pembelajaran menulis karangan di SMP …. Prasaran pada kegiatan ilmiah di tingkat kabupaten yang menjelaskan pengalamannya dalam pembelajaran dengan disertai data dan persamasalah nyata yang terjadi di kelasnya.

Bukti bahwa makalah tersebut telah diseminarkan pada forum tertentu dilampiran dengan disertai bukti-bukti yang valid. Prasaran di pertemuan ilmiah nilai 2,0

2.5. Apa benar, banyak KTI ditolak karena tidak asli?

Tujuan kegiatan pengembangan profesi tentu TIDAK untuk menjadikan guru yang TIDAK JUJUR.

Karena itu, semua KTI yang menunjukkan hasil kerja yang tidak jujur seharusnya ditolak dan tidak diberi nilai, dan bahkan bila perlu yang bersangkutan dikenai sangsi.

Tujuan kegiatan pengembangan juga dimaksudkan agar guru MELAKUKAN SECARA NYATA sesuatu kegiatan (seberapa sederhana atau kecilnya kegiatan) di kelasnya yang ditujukan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil belajar.

Sehingga KTI yang diajukan harus mampu menunjukkan adanya karya nyata tersebut. KTI yang jelas-jelas tidak menunjukkan kegiatan semacam itu tidak dapat diberi nilai.

Dalam praktik sering dijumpai KTI yang merupakan JIPLAKAN, KTI orang lain yang dinyatakan sebagai karyanya, atau bahkan KTI yang DIBUATKAN oleh orang lain (institusi; biro jasa).

KTI yang tidak asli, seringkali mudah terdeteksi, misalnya dari data yang tidak konsisten, tulisan yang tidak sama, dan lain-lain. Beberapa kasus KTI tidak asli yang pernah terjadi adalah sebagai berikut.

No Hal yang pernah terjadi…

1 Pada KTI terdapat indikasi yang menunjukan bahwa KTI tersebut tidak asli, seperti data yang tidak konsisten, lokasi, nama sekolah, dan data yang dipalsukan, lampiran yang tidak sesuai, dan lain-lain

2 Beberapa KTI dari guru yang sama, sangat berbeda kualitasnya. Misalnya satu KTI berkualitas setara tesis, sedang KTI lain yang, mempunyai kualitas yang sangat jauh berbeda.

Tidak wajar apabila kualitas KTI dari guru yang sama, mempunyai mutu yang sangat jauh berbeda.

3 Dalam satu tahun, seorang guru mengajukan lebih dari dua buah KTI hasil penelitian.

Kurang wajar bila seorang guru mampu membuat KTI hasil penelitian dalam jumlah yang terlalu banyak dalam satu tahun (Apabila setiap semester dilakukan satu penelitian, maka dalam setahun, dihasilkan maksimal dua KTI hasil penelitian)

4 KTI yang dinyatakan dibuat dalam waktu yang berbeda (misalnya tahun-tahun yang berbeda) mempunyai kesamaan mencolok satu dengan yang lain.

Kesamaan itu misalnya tampak pada kata pengantar, tanggal pengesahan, tanggal pembuatan, foto pelaksanaan yang sama, dan data lain yang menunjukkan ketidak wajaran.

5 KTI yang diajukan sangat mirip skipsi, tesis atau desertasi orang lain.

Hal ini tampak dari sajian isi, format kelengkapan kepustakaan, kedalaman teori dan terutama permasalahan penelitian sangat mirip dengan skripsi, tesis atau desertasi.

6 Beberapa KTI (yang umumnya berasal dari daerah yang sama) sangat mirip. Kemiripan yang mencolok tersebut tampak pada pengantar, abstrak, teori, daftar pustaka, yang tertulis sama baik bentuk dan ukuran huruf, kata-demi-kata, kalimat dan lain-lain.

Fakta di lapangan menunjukkan adanya biro jasa yang bersedia “membuatkan” KTI bagi para guru.

2.6. Apa benar, banyak KTI diterima karena berupa laporan PTK?

Tidak sepenuhnya benar. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya terdapat tujuh macam KTI, mulai dari KTI hasil penelitian sampai dengan KTI terjemahan. Apapun macam KTInya apabila telah dibuat dengan baik dan benar, maka dapat diberi nilai.

Namun, akhir-akhir ini KTI yang paling banyak dibuat oleh guru adalah KTI hasil penelitian, terutama hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Memang, KTI yang dibuat berdasar hasil PTK disarankan untuk dilakukan guru dalam upaya menulis KTI karena (a) KTI tersebut merupakan laporan dari kegiatan nyata yang dilakukan para guru di kelasnya dalam upaya meningkatkan mutu pembelajarannya – (ini tentunya berbeda dengan KTI yang berupa laporan penelitian korelasi, penelitian diskriptif, ataupun ungkapan gagasan, yang umumnya tidak memberikan dampak langsung pada proses pembelajaran di kelasnya), dan (b) dengan melakukan kegiatan penelitian tersebut, maka para guru telah melakukan salah satu tugasnya dalam kegiatan pengembangan profesionalnya.

Umumnya KTI yang berupa laporan PTK menggunakan kerangka isi sebagai berikut:

Bagian Awal yang terdiri dari: (a) halaman judul; (b) lembaran persetujuan dan pernyataan dari kepala sekolah yang menyatakan keaslian tulisan dari si penulis; (c) pernyataan dari perpustakaan yang menyatakan bahwa makalah tersebut telah disimpan diperpustakannya, (d) pernyataan keaslian tulisan yang dibuat dan ditandatangi oleh penulis, (e) kata pengantar; (f) daftar isi, (bila ada : daftar label, daftar gambar dan daftar lampiran), serta (g) abstrak atau ringkasan.

Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni: (Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan penelitian tindakan; (Bab III) Metode Penelitian atau Metodologi Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur penelitian; (Bab IV) Hasil penelitian dan pembahasan serta mengemukakan gambaran tentang pelaksanaan tindakan, dimulai dari setting atau pengaturan siswa, penjelasan umum jalannya pembelajaran diikuti penjelasan siklus demi siklus; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.

Bagian Penunjang yang pada umumnya terdiri dari sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang diperlukan untuk menunjang isi laporan. Lampiran utama yang harus disertakan adalah (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh guru maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

Hanya laporan PTK yang baik dan benar sajalah yang dapat diberi nilai. Untuk itu berikut disajikan contoh format Penilaian PTK

No Komponen Indikator

1. Format keseluruhan Kelengkapan materi : Bagian awal, bagian isi penelitian, dan bagian pendukung

2. Bab I PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah Kejelasan alasan dilengkapi data yg relevan

B. Penjelasan tindakan Kejelasan tindakan spesifik yang dilakukan

C. Rumusan masalah Kejelasan rumusan masalah

D. Tujuan penelitian Kejelasan tujuan dan manfaat penelitian

3. BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Cakupan teori Uraian teori yang berkaitan dengan permasalahan dan tindakan yang dilakukan.

C. Kerangka berpikir Kejelasan alur pikir dalam menarik hipotesis

4. BAB III METODE PENELITIAN Kejelasan tentang subjek tindakan

Kejelasan mengenai apa dan bagaimana tindakan dilakukan (minimal dua siklus)

Kejelasan langkah tindakan yang dilakukan guru dan siswa

Kejelasan pelaksanaan refleksi

5. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kejelasan pelaksanaan proses tindakan tiap siklus

Sajian data tentang aspek perubahan pada proses pengamatan tiap siklus

Kejelasan kegiatan refleksi

6. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kejelasan kesimpulan dan saran

7. Bagian Pendukung Kesesuaian pustaka

Kelengkapan lampiran (adanya instrumen, contoh hasil kerja siswa, foto kegiatan, daftar presensi, dan dokumen kegiatan yang lain)

Apabila KTI tersebut merupakan laporan hasil penelitian (misalnya laporan PTK) maka cirri khususnya adalah sebagai berikut:

Ciri khusus KTI yang berupa laporan PTK

KTI ini merupakan laporan hasil penelitian tindakan kelas .

Untuk dapat membuat laporan penelitian, si penulis terlebih dahulu harus melakukan penelitian.

Kegiatan penelitian yang dilakukan guru adalah di bidang pembelajaran yang diasuhnya dan dilakukan di kelasnya.

Tujuan utama kegiatan PTK yang dilakukan adalah untuk pengembangan profesi dalam meningkatkan mutu pembelajarannya.

2.7. Bagaimana agar KTI yang baik dan benar, bertambah?

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, terdapat permasalahan sehubungan proses kenaikan dari golongan IVa ke atas yang relatif berjalan “lambat”. Pada kenaikan pangkat golongan IVa ke atas diwajibkan adanya pengumpulan angka kredit dari unsur Kegiatan Pengembangan Profesi.

Sementara itu, tidak sedikit guru yang “merasa” kurang mampu melaksanakan kegiatan pengembangan profesinya (= yang dalam hal ini membuat KTI) sehingga menjadikan mereka enggan, tidak mau, dan bahkan apatis terhadap pengusulan kenaikan golongannya. Terlebih lagi dengan adanya pendapat bahwa kenaikan pangkat/golongannya belum memberikan peningkatkan kesejahteraan yang signifikannya,

Akibat dari hal di atas menjadikan permasalahan (a) Banyak guru yang telah lama berada di golongan IVa, dan sangat ingin segera naik pangkat. Baik mereka yang memenuhi persyaratan, ataupun tidak. Baik yang berprestasi, maupun tidak, dan (b) Banyak guru yang telah mencoba mengumpulkan angka kredit pengembangan profesi, dan yang terbanyak melalui KTI, tetapi KTI nya tidak memenuhi syarat dan TIDAK dapat diberi nilai.

Persoalannya adalah: Bagaimana guru lebih mau dan lebih mampu membuat KTI, agar jumlah KTI yang baik dan benar dapat bertambah. Beberapa cara dapat dilakukan, antara lain :

(1) Perbanyak sosialisasi tentang makna dan tujuan Kegiatan Pengembangan Profesi dan hubungannya dengan kriteria KTI yang dapat dinilai

(2) Perbanyak pelatihan tentang bagaimana menyusun KTI terutama kepada mereka yang sudah memenuhi syarat untuk itu

(3) Revisi dan perbaiki Pedoman Penulisan (yang dibuat tahun 1996) untuk dapat menjadi pedoman yang lebih praktis dan mudah dipahami, perbanyak dan sebarkan

(4) Buat dan sebarkan berbagai buku pedoman penulisan yang dapat membantu guru dalam menulis KTInya

(5) Perbaiki aturan dan kebijakan tentang kenaikkan pangkat guru dari IIIa ke IVa agar tidak terjadi anggapan bahwa “naik pangkat begitu mudahnya dan tidak perlu upaya serta prestasi”

(6) Perbaiki aturan dan kebijakan tentang kenaikkan pangkat guru dari IVa ke atas agar tidak terjadi anggapan bahwa “naik pangkat begitu susahnya, dan membawa frustasi”

Bab III Pertanyaan yang sering muncul pada pelatihan KTI

3.1. Saat ini jumlah guru dalam golongan IVa sangat banyak, kenaikkan ke golongan IVb ke atas, sangat lambat. Mengapa tidak dilakukan seperti kenaikan pangkat dari III a ke IVa yang relatif lancar?

Tujuan kegiatan pengembangan profesi guru adalah untuk meningkatkan mutu guru agar mereka lebih profesional dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya.

Kegiatan tersebut bertujuan bukan untuk mempercepat atau memperlambat kenaikan pangkat/golongan, tetapi untuk memperbanyak guru yang makin profesional. Selanjutnya sebagai penghargaan kepada guru yang mampu meningkatkan mutu profesionalnya, diberikan penghargaan, di antaranya dengan kenaikan pangkat/golongannya.

Sangat TIDAK adil dan TIDAK professional jika penghargaan kenaikan pangkat/golongan diberikan “secara otomatis” kepada semua guru (baik yang berprestasi maupun yang tidak), atau hanya berdasar kepada masa kerjanya.

Berbagai informasi menyatakan bahwa kenaikan pangkat/jabatan guru dari golongan IIIa ke IVa, relatif “lancar”, sehingga saat ini cukup banyak guru telah menduduki golongan IVa, baik mereka yang professional maupun tidak. Hal tersebut dapat saja menggembirakan. Tetapi juga sekaligus “menyedihkan” bila kenaikan pangkat/golongan itu tidak dilakukan dengan seleksi yang mampu menunjukkan realita mutu guru yang sesuai dengan pangkat/golongan yang disandangnya.

3.2. Apakah untuk memperoleh angka kredit pengembangan profesi harus dengan cara membuat KTI?

Tidak. Berbeda dengan anggapan umum, menyusun Karya Tulis Ilmiah (KTI) BUKAN merupakan satu-satunya kegiatan pengembangan profesi guru.

Namun, dengan berbagai alasan, antara lain karena belum jelasnya petunjuk operasional pelaksanaan dan penilaian dari kegiatan selain menyusun KTI, maka pelaksanaan kegiatan pengembangan profesi sebagian terbesar dilakukan melalui KTI.

3.3. Berapa jumlah halaman KTI agar dapat dinilai?

Tidak hubungan antara banyaknya jumlah halaman dengan mutu KTInya.

Umumnya KTI hasil penelitian PTK yang disajikan dalam bentuk makalah berkisar antara 40 – 60 halaman, belum termasuk lampiran-lampirannya.

3.4. Apa masalah utama yang terjadi dalam penyusunan KTI?

Terdapat beberapa permasalahan dalam praktik pelaksanaan dan pembuatan laporan kegiatan pengembangan profesi guru.

Pertama banyaknya laporan kegiatan (yang umumnya berupa Karya Tulis Ilmiah) yang “keasliannya” diragukan, KTI tersebut diduga bukan karya si penulis.

Kedua, banyaknya KTI yang tidak ada manfaatnya, sekedar ungkapan gagasan yang dangkal, terlalu umum, dan tidak jelas menunjukkan kegiatan apa yang telah dilakukan guru dalam usahanya dalam pengembangan profesinya sebagai guru. \

3.5 Apakah KTI yang mempermasalahkan tentang materi isi ajaran, mengkaji ada tidaknya hubungan antara latar belakang siswa dengan prestasi belajarnya, tidak memenuhi syarat untuk dinilai?

Sebagai penelitian di bidang pendidikan penelitian tersebut boleh-boleh saja. Namun dalam konteks kegiatan pengembangan profesi guru, maka guru diharapkan melakukan kegiatan inovatif dalam peningkatan / pengembangan profesinya sebagai guru.

Dalam hal ini upaya memperbaiki rancangan, sajian dan evaluasi pembelajaran sangat disarankan sebagai bentuk kegiatan nyata guru dalam kegiatan pengembangan profesi.

Dengan konteks itu KTI yang mempermasalahkan tentang materi isi ajaran, mengkaji ada tidaknya hubungan antara latar belakang siswa dengan prestasi belajarnya, tidak memenuhi syarat untuk dinilai.

3.6 Apakah KTI laporan hasil penelitian harus berupa makalah?

Tidak. Suatu kegiatan pengembangan profesi guru, seperti misalnya melakukan PTK, maka laporan hasil penelitiannya dapat disajikan dalam berbagai bentuk.

Dapat berupa makalah yang disimpan di perpustakaan, atau dalam bentuk artikel yang dimuat di jurnal ilmiah atau tulisan ilmiah popular atau sebagai makalah yang merupakan prasaran dalam pertemuan ilmiah

3.7 Apa yang paling sering menjadi alasan penolakan KTI yang berasal dari laporan hasil penelitian PTK?

Alasan yang paling sering dijumpai dalam menolak laporan PTK adalah:

(a) penjelasan apa dan bagaimana tindakan yang dilakukan kurang terjabar dengan jelas dan rinci

(b) penjelasan tentang bagaimana menilai keberhasilan atau menilai ketercapaian dari tindakan tidak jelas

(c) tidak melampirkan semua intrumen yang digunakan dalam pelaksanaan tindakan, dan sangat disarankan untuk melampirkan pula contoh isian kuisener, tes, kegiatan siswa, isian observasi guru, daftar hadir, foto-foto kegiatan dan dokumen yang lain

3.8. Mengapa banyak KTI yang dikirim untuk dinilai, belum berhasil memperoleh angka kredit?

Prosentase KTI yang tidak memenuhi syarat untuk memperoleh angka kredit masih sangat tinggi, hal ini terutama disebabkan oleh

 Tidak sedikit KTI yang diajukan oleh guru bukan karya sendiri, namun menyalin dari karya orang lain (yang umumnya skripsi, tesis orang lain), atau bahkan KTI tersebut dibuatkan oleh orang/institusi lain.

 Cukup banyak KTI yang mempermasalahkan hal-hal yang mengada-ada, tidak perlu dan membahas masalah yang terlalu luas serta tidak berkaitan dengan kegiatan pengembangan profesi yang bersangkutan sebagai guru. Penelitian yang mempermasalahkan hubungan antara latar belakang siswa dengan prestasi belajarnya, pengaruh latar belakang orang tua, manfaat perpustakaan merupakan contoh KTI yang tidak perlu.

 Meskipun tidak terlalu banyak, beberapa KTI ditolak karena tidak mengikuti kaidah keilmuan, seperti rumusan masalah tidak jelas, kerangka teori sangat menyimpang, metode penelitian yang salah, data yang tidak sesuai, dan kesimpulan yang tidak terkait dengan rumusan masalah.

 Ada pula KTI yang ditolak karena kurang konsisten antara tugasnya dangan apa yang ditulisnya.

Rangkuman

KTI adalah laporan tertulis tentang (hasil) kegiatan ilmiah. Karena kegiatan ilmiah itu banyak macamnya, maka laporan kegiatan ilmiah (= KTI) juga beragam bentuknya. Ada yang berbentuk laporan penelitian, tulisan ilmiah populer, buku, diktat dan lain-lain.

Salah satu bentuk KTI yang akhir-akhir ini, cenderung banyak dilakukan oleh para guru adalah KTI hasil penelitian perorangan yang tidak dipublikasikan, tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah dalam bentuk makalah. KTI jenis ini mempunyai nilai angka kredit 4 (empat).

Penelitian Tindakan Kelas (PTK), disarankan dilakukan guru karena KTI tersebut merupakan laporan dari kegiatan nyata yang dilakukan para guru di kelasnya dalam upaya meningkatkan mutu pembelajarannya.

Di lapangan, terdapat KTI yang merupakan JIPLAKAN, KTI orang lain yang dinyatakan sebagai karyanya, atau bahkan KTI yang DIBUATKAN oleh orang lain. Banyak pula KTI yang berisi uraian hal-hal yang terlalu umum dan tidak berkaitan dengan permasalahan atau kegiatan nyata yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pengembangan profesinya.

Agar guru lebih mau dan lebih mampu membuat KTI, agar jumlah KTI yang baik dan benar dapat bertambah dapat dilakukan (a) Perbanyak sosialisasi tentang makna dan tujuan Kegiatan Pengembangan Profesi dan hubungannya dengan kriteria KTI yang dapat dinilai, (b) Perbanyak pelatihan tentang bagaimana menyusun KTI terutama kepada mereka yang sudah memenuhi syarat untuk itu, (c) Revisi dan perbaiki Pedoman Penulisan untuk dapat menjadi pedoman yang lebih praktis dan mudah dipahami, perbanyak dan sebarkan, (d) Buat dan sebarkan berbagai buku pedoman penulisan yang dapat membantu guru dalam menulis KTInya.

Kepustakaan

Suhardjono, Azis Hoesein, dkk. (1996). Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Widyaiswara. Jakarta : Depdikbud, Dikdasmen.

Suhardjono, (2005), Laporan Penelitian Eksperimen dan Penelitian Tindakan Kelas sebagai KTI, makalah pada pelatihan peningkatan mutu guru di Makasar, Jakarta tahun 2005

Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi (2006) Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Bumi Aksara

Suriasumantri, Jujun S. (1984). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan

Pemakalah

Prof. DR. Ir. H. Suhardjono, Dipl.HE. lahir di Kebumen, 23 Maret 1946. Sarjana Teknik Sipil Universitas Brawijaya tahun 1972. Diploma on Hydraulic Engineering dari International Institute of Hydraulic Engineering TH Delft, Nederland, 1977, Magister Kependidikan IKIP Jakarta tahun 1982, Doktor Kependidikan bidang Studi Teknologi Pembelajaran IKIP Malang, 1990. Guru Besar dalam Metode Penelitian tahun 2000.

Mengikuti berbagai pendidikan tambahan, di bidang kependidikan dan pengembangan sumber daya air baik di dalam maupun di luar negeri, antara lain di University of Newcastle, Inggris (1997), International Institute for Infrastructural, Hydraulic and Enviromental Engineering, Manila (1996), State University of New York at Albany, USA (1988), University of Southern California, Los Angeles, USA (1980).

Dosen tetap Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, sejak tahun 1970. Mendapat tugas tambahan sebagai dekan selama dua periode tahun 1982-1985, dan 2001-2005, ketua P3AI Unibraw 1996-2001. Pernah mendapat berbagai tugas kependidikan di antaranya sejak 1996 membantu sebagai anggota tim penatar dan tim teknis penilai KTI dalam pengembangan profesi guru.

Rumah AR Hakim IV/129 Malang telp. 0341 327834, e-mail suhardjono_sisno@yahoo.co.id

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: